Biaya Interkoneksi Tak Perlu Turun agar Tarif Seluler Murah

Biaya Interkoneksi Tak Perlu Turun agar Tarif Seluler Murah - Hallo sahabat WARTA BERITA ONLINE, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Biaya Interkoneksi Tak Perlu Turun agar Tarif Seluler Murah, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel berita teknologi, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Biaya Interkoneksi Tak Perlu Turun agar Tarif Seluler Murah
link : Biaya Interkoneksi Tak Perlu Turun agar Tarif Seluler Murah

Baca juga


Biaya Interkoneksi Tak Perlu Turun agar Tarif Seluler Murah

Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) dianggap salah melangkah dalam membangun ekosistem industri telekomunikasi yang sehat jika memaksakan penurunan biaya interkoneksi. Karena sebetulnya masih ada cara lainnya.

“Saya kasih saran ke Pak Rudiantara (Menkominfo) soal keinginan menurunkan tarif seluler. Minta operator kurangi promosi tarif Rp 0 atau harga yang tak rasional yang biasanya ada ketika menawarkan kartu perdana baru, kurangi promosi yang tak efektif, dan minta marjin diturunkan sedikit. Baru tarif seluler turun,” tegas Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB M Ridwan Effendi di Jakarta.

Menurutnya, ada mis-persepsi yang dikembangkan di masyarakat tentang biaya interkoneksi dan tarif seluler. Karena biaya interkoneksi hanya 15 persen  menyumbang tarif interkoneksi.

“Artinya komponen lain lebih besar yakni biaya aktivasi (termasuk promosi) dan marjin keuntungan. Kenapa dikembangkan terus salah paham ini menjadi gagal paham di ruang publik. Ini bikin publik bingung,” kesalnya.

Dia bilang, regulator jangan merancukan isu biaya interkoneksi dengan penetapan tarif pungut ke pelanggan.

“Penetapan biaya interkoneksi yang asimetris itu hak perusahaan, ini murni urusan perusahaan dengan perusahaan. Kalau tarif ritel mau murah saya sepakat, itu hak masyarakat untuk dapat tarif yang reliable dan terjangkau. Tapi kalau caranya melabrak semua pakem, ini sudah tak demokrasi lagi namanya,” katanya.

Diingatkannya, network size dari masing-masing operator berbeda sehingga itu tercermin dari recovery cost yang dipaparkan kala Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi I  pada tanggal  25 Agustus 2016 lalu. Saat itu diungkapkan Cost Recovery dari XL sebesar Rp 65/menit, Indosat  dengan cost recovery Rp 87/menit, Tri Indonesia dengan cost recovery Rp 120/menit, dan Telkomsel dengan Cost Recovery Rp 285/menit.

“Kominfo harus mengapresiasi pembangunan jaringan yang dilakukan Telkom Group selama ini dimana melebihi lisensi yang dimiliki. Terlihat dengan hadirnya BTS milik Telkomsel hingga ke pelosok dan harus menanggung rugi pula dari pengoperasiannya. Ayolah, ada nasionalisme sedikit. Katanya sekarang mau Nawacita,” tukasnya.

Sekadar diketahui, industri telekomunikasi tengah menunggu keputusan strategis yang akan diambil Menkominfo Rudiantara terkait penetapan biaya interkoneksi pasca keluarnya Surat edaran dengan nomor 1153/M.KOMINFO/PI.0204/08/2016 yang ditandatangani Plt Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika, Geryantika Kurnia tentang biaya interkoneksi.

Keputusan akan diambil usai Rudiantara mengumpulkan semua petinggi operator pada Senin (29/8) dan berikutnya melakukan Rapat Kerja dengan Komisi I DPR pada minggu ini.

(tyo)



Sumber : Biaya Interkoneksi Tak Perlu Turun agar Tarif Seluler Murah


Demikianlah Artikel Biaya Interkoneksi Tak Perlu Turun agar Tarif Seluler Murah

Sekianlah artikel Biaya Interkoneksi Tak Perlu Turun agar Tarif Seluler Murah kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Biaya Interkoneksi Tak Perlu Turun agar Tarif Seluler Murah dengan alamat link https://wartaberita9.blogspot.com/2016/08/biaya-interkoneksi-tak-perlu-turun-agar.html

0 Response to "Biaya Interkoneksi Tak Perlu Turun agar Tarif Seluler Murah"

Posting Komentar